Senin, 20 September 2010

Penelitian Pendidikan Fisika

Pertemuan pendahuluan II: 06-09-2010

1. Pengertian penelitian, karakteristik penelitian

Pengertian Penelitian

A. Pengertian Penelitian

Penelitian adalah suatu penyelidikan atau suatu usaha pengujian yang dilakukan secara teliti, dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan menggunakan langkah-langkah tertentu. Dalam mencari fakta-fakta ini diperlukan usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah. Beberapa pakar lain memberikan definisi penelitian sebagai berikut :

1. David H Penny

Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.

2. J. Suprapto

Penelitian adalah penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati, serta sistematis.

3. Sutrisno Hadi

Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.

4. Mohammad Ali

Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu melalui penyelidikan atau usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya.

5. The New Horison Ladder Dictionary

Pengertian research ialah a careful study to discover correct information, yang artinya, suatu penyelidikan yang dilakukan secara hati-hati untuk memperoleh informasi yang benar.

Secara etimologi, penelitian berasal dari bahasa Inggris “research” (re berarti kembali, dan search berarti mencari). Dengan demikian research berarti mencari kembali.

6. Menurut kamus Webster New Internasional,

penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Hillway dalam bukunya Introduction to research mengemuka-kan bahwa penelitian adalah suatu metode belajar yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut. (Hillway, 1965)

7. Tuckman mendefinisikan penelitian (research) : “ a systematic attempt to provide answer to question” yaitu penelitian merupakan suatu usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah. Sistematis artinya mengikuti prosedur atau langkah-langkah tertentu. Jawaban ilmiah adalah rumusan pengetahuan, generaliasi, baik berupa teori, prinsip baik yang bersifat abstrak maupun konkret yang dirumuskan melalui alat- primernya, yaitu empiris dan analisis. Penelitian itu sendiri bekerja atas dasar asumsi, teknik dan metode.

Kadang-kadang orang menyamakan pengertian penelitian dengan metode ilmiah. Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dimana usaha-usaha itu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Kegiatan penelitian adalah suatu kegiatan objektif dalam usaha mengembangkan, serta menguji ilmu pengetahuan berdasarkan atas prinsip-prinsip, teori-teori yang disusun secara sistematis melalui proses yang intensif dalam pengembangan generalisasi. Sedangkan metode ilmiah lebih mementingkan aplikasi berpikir deduktif-induktif di dalam memecahkan suatu masalah.

Fokus perhatian dalam suatu penelitian adalah masalah, masalah yang muncul dalam pikiran peneliti berdasarkan penelaahan situasi yang meragukan (a perplexing situation). Masalah adalah titik sentral dari keseluruhan penelitian.

B. Cara memperoleh pengetahuan

1. Commonsense: akal sehat.

Pengetahuan didasarkan pada pikiran sehat yang secara umum diterima kebenarannya, tapi tidak ditunjang oleh informasi empiris.

Contoh : Fisika adalah pengasah pikiran.

2. Otoritas

Pengetahuan didasarkan pada penghormatan atas kekuasaan seseorang atau sesuatu tanpa kritik.

Contoh : Dimasa Ptolemaeus berkembang teori geosentri, yang merupakan doktrin dari kaum gereja yang berkuasa saat itu.


3. Intuitif

Pengetahuan yang didasarkan atas firasat atau pengalaman.

Contoh : Doktrin dari Supranatural

4. Logika

Pengetahuan yang didasarkan pada kebenaran rasional atau logika.

Contoh :

Mayor premise : Semua manusia mati

Minor premise : Socrates adalah manusia

Kesimpulan : Socrates mati.


5. Empiris

Pengetahuan diperoleh dari objek pegetahuan itu sendiri, pengetahuan diperoleh dari data-data hasil penelitian.


C. Ciri-ciri penelitian

1. Memiliki masalah, terumus jelas dan terperinci.

2. Memiliki hipotesis, terumus jelas dan terperinci.

3. Terencana, bertujuan dan bermetode.

4. Empiris, berdasarkan observasi fenomena.

5. Berlogika, berdasarkan analisis teoritis.

6. Berakurasi dan valid, menggunakan instrumen yang tepat dan reliabel.

7. Memiliki sumber data, primer dan sekunder.

8. Non-etikal, bersifat objektif.

9. Siklikal, sistematis.

10. Berproduk: abstrak (berupa: prinsip, generalisasi, dan teoritik) atau konkret (berupa: model atau alat)

D. Karakteristik penelitian :

1. Berfungsi menjawab permasalahan tertentu.

2. Dilakukan secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu.

3. Melibatkan kegiatan pengumpulan, pengolahan dan penyimpulan data (fakta dan opini).

2. Metode berpikir ilmiah, proses penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara bagaimana penelitian dapat dilakukan secara benar dan sistematis, berdasarkan kaidah umum statistika. Hal ini meliputi desainnya, kerangka kerjanya, populasinya, sampelnya, dan teknik sampling. Selain itu dijelaskan pula bagaimana identifikasi variabel dan definisi operasionalnya, bagaimana cara pengumpulan data, bagaimana analisa datanya, apa keterbatasannya dan apa masalah etikanya.

Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, maka penelitian dapat dibedakan menjadi 6 bagian yaitu :

1. Penelitian deskriptif

2. Penelitian eksploratif

3. Penelitian historis

4. Penelitian korelasional

5. Penelitian sebab akibat dan komparatif

6. Penelitain eksperimen

7. Penelitian Kuasai eksperiman

Khusus untuk penelitian statistika deskriptif maka diuraikan sebagai berikut.

Arti deskriptif adalah uraian, paparan atau keterangan. Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk mengetahui paparan, uraian terhadap suatu kasus yang sedang diteliti. Dengan mengetahui paparan ini maka diharapkan peneliti dapat menganalisis dan memecahkan suatu masalah secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta yang didapat di suatu daerah tertentu.

Penelitian deskrptif ini mempunyai ciri-ciri yaitu untuk membuat suatu keterangan dan paparan terhadap suatu situasi atau kejadian tertentu. Menurut Sugiyono (2006:21) penelitian (statistika) deskriptif adalah statistika yang berfungsi untuk mendiskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimanan adanya, tanpa membuat kesimpulan yang berlaku umum. Jadi pada penelitian deskriptif hanya merupakan akumulasi data dasar dalam cara deskriptif semata-mata, tidak perlu mencari hubungan korelasi, hubungan sebab akibat dan tidak perlu mencari hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap suatu penelitian.

Beberapa ciri dari penelitian deskriptif adalah penelitian yang mencari uraian data seperti nilai maksimum, nilai minimum, standar deviasi, rata-rata (mean), grafik, gambar, dan lain-lain. Sebagian para ahli menyatakan bahwa penelitian deskriptif lebih luas cakupan penelitiannya, kecuali dalam penelitian sejarah dan penelitian ekperimental

Berikut adalah contoh penelitian deskriptif :

  1. Survei mengenai pendapat para umat mengenai pernikahan poligami studi kasus terhadap suatu tokoh pimpinan daerah tertentu
  2. Analisis demografik terhadap masyarakat tertinggal di wilayah tertentu
  3. Analisis kebutuhan pelatihan ketrampilan bagi para mubaligh di daerah – daerah terpencil di Kabupaten Pandeglang, Banten
Ucapan Terima Kasih Kepada:

1. 1. Mr. Yaya Kardiawarman, M.Sc., Ph.D.

2. 2. Mrs. Dr. Ida kaniawati, M.Pd.

Minggu, 19 September 2010

Penelitian Pendidikan Fisika


Bissmilahirohmanirrohim

Metode Penelitian Pendidikan Fisika

(Educational Research Methodology)

Lecturer :




1. Mr. Yaya Kardiawarman, M.Sc., Ph.D.

(State University of New York)

2. Mrs. Dr. Ida kaniawati, M.Pd.

Pertemuan Pendahuluan: Senin, 30-08-2010

Pengenalan Mata Kuliah:

Tujuan Mata Kuliah

Membekali mahasiswa dalam metodologi penelitian pendidikan Fisika sehingga mampu melakukan penelitian buat keperluan penulisan Skripsi

Deskripsi Mata Kuliah

Pengertian penelitian, karakteristik penelitian, peranan penelitian dalam pendidikan, peranan statistik dalam penelitian, metode berpikir ilmiah, proses penelitian, metode penelitian, desain eksperimen dalam pendidikan, teknik pengumpulan data, teknik sampling, teknik analisis data, perencanaan penelitian, laporan penelitian, penelitian kualitatif.

Tugas Mahasiswa

Membuat proposal penelitian guna keperluan Skripsi, kemudian diseminarkan di dalam kelas untuk ditanggapi mahasiswa lainnya di bawah bimbingan dosen


Jumat, 27 Agustus 2010

Termodinamika



Sumber Foto: the laws of thermodynamics

6.8 Some Overall Comments on Entropy,

Reversible and Irreversible Processes


[Mainly excerpted (with some alterations) from: Engineering Thermodynamics, William C. Reynolds and Henry C. Perkins, McGraw-Hill Book Company, 1977.]

6.8.1 Entropy

  1. Entropy is a thermodynamic property that measures the degree of randomization or disorder at the microscopic level. The natural state of affairs is for entropy to be produced by all processes.
  2. A macroscopic feature which is associated with entropy production is a loss of ability to do useful work. Energy is degraded to a less useful form, and it is sometimes said that there is a decrease in the availability of energy.
  3. Entropy is an extensive thermodynamic property. In other words, the entropy of a complex system is the sum of the entropies of its parts.
  4. The notion that entropy can be produced, but never destroyed, is the second law of thermodynamics.


6.8.2 Reversible and Irreversible Processes

Processes can be classed as reversible or irreversible. The concept of a reversible process is an important one which directly relates to our ability to recognize, evaluate, and reduce irreversibilities in practical engineering processes.

Consider an isolated system. The second law says that any process that would reduce the entropy of the isolated system is impossible. Suppose a process takes place within the isolated system in what we shall call the forward direction. If the change in state of the system is such that the entropy increases for the forward process, then for the backward process (that is, for the reverse change in state) the entropy would decrease. The backward process is therefore impossible, and we therefore say that the forward process is irreversible.

If a process occurs, however, in which the entropy is unchanged by the forward process, then it would also be unchanged by the reverse process. Such a process could go in either direction without contradicting the second law. Processes of this latter type are called reversible.

The key idea of a reversible process is that it does not produce any entropy.

Entropy is produced in irreversible processes. All real processes (with the possible exception of superconducting current flows) are in some measure irreversible, though many processes can be analyzed quite adequately by assuming that they are reversible. Some processes that are clearly irreversible include: mixing of two gases, spontaneous combustion, friction, and the transfer of energy as heat from a body at high temperature to a body at low temperature.

Recognition of the irreversibilities in a real process is especially important in engineering. Irreversibility, or departure from the ideal condition of reversibility, reflects an increase in the amount of disorganized energy at the expense of organized energy. The organized energy (such as that of a raised weight) is easily put to practical use; disorganized energy (such as the random motions of the molecules in a gas) requires ``straightening out'' before it can be used effectively. Further, since we are always somewhat uncertain about the microscopic state, this straightening can never be perfect. Consequently the engineer is constantly striving to reduce irreversibilities in systems, in order to obtain better performance.


6.8.3 Examples of Reversible and Irreversible Processes

Processes that are usually idealized as reversible include:

  • Frictionless movement
  • Restrained compression or expansion
  • Energy transfer as heat due to infinitesimal temperature nonuniformity
  • Electric current flow through a zero resistance
  • Restrained chemical reaction
  • Mixing of two samples of the same substance at the same state.
Processes that are irreversible include:
  • Movement with friction
  • Unrestrained expansion
  • Energy transfer as heat due to large temperature non uniformities
  • Electric current flow through a non zero resistance
  • Spontaneous chemical reaction
  • Mixing of matter of different composition or state.

Disusun Ulang Oleh:

Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA. Universitas Pendidikan Indonesia

&

Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University. Cambridge. USA.


Materi kuliah termodinamika ini disusun dari hasil perkuliahan di departemen fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dengan Dosen:

1. Bpk. Drs. Saeful Karim, M.Si.

2. Bpk. Insan Arif Hidayat, S.Pd., M.Si.

Dan dengan sumber bahan bacaan lebih lanjut dari :


Massachusetts Institute of Technology, Thermodynamics

Professor Z. S. Spakovszk, Ph.D.

Office: 31-265

Phone: 617-253-2196

Email: zolti@mit.edu

Aero-Astro Web: http://mit.edu/aeroastro/people/spakovszky

Gas Turbine Laboratory: home

Ucapan Terima Kasih:


Kepada Para Dosen di MIT dan Dosen Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia


Semoga Bermanfaat